Mengenal Sindrom Baby Blues Pasca Melahirkan

Manfaat Baby Blues

Dulu saya boleh dibilang terlalu sibuk mengurus persiapan untuk melahirkan plus mengecek daftar segudang kebutuhan untuk newborn baby, sampai-sampai saya lupa kalau saya juga harus mempersiapkan mental pasca melahirkan. Saya ingat saat itu saya merasa lumayan pede aja pas mau lahiran, merasa pasti bisa kok, lalu juga merasa mental sudah siap untuk menjadi seorang ibu… pokoknya merasa semuanya sudah oke… dan eng, ing, eng… ternyata saya salah besar! Justru mental pasca lahiran itu juga tidak boleh diremehkan sama sekali.

Menjadi seorang ibu itu pengalaman yang sama sekali baru buat saya, jadi saya belum benar-benar tahu tentang banyak hal yg akan saya hadapi pasca lahiran, especially yang namanya Baby Blues Syndrome. Sebenarnya dulu saya pernah membaca artikel yang menjelaskan sindrom tersebut. Tapi kembali lagi, saat itu saya merasa terlalu pede, tidak akanlah mengalami sindrom yang namanya mirip kayak musik blues itu, sampai kemudian pasca lahiran, entah kenapa saya jadi gampang emosi, lalu tiba-tiba nangis sendiri. Awalnya saya belum sadar kalau apa yang saya alami itu adalah sindrom Baby Blues. Baru setelah saya ngobrol dengan suami dan coba flashback mengingat-ingat lagi, saya baru ngeh ternyata saya terkena Baby Blues.

Baby Blues Syndrome (BBS) atau Postpartum Distress Syndrome adalah kondisi psikologis yang dialami wanita berupa perasaan gundah dan sedih berlebihan yang biasanya dialami ibu pasca melahirkan. Umumnya, kondisi ini memburuk di 3-4 hari pasca melahirkan dan hanya terjadi pada 14 hari pertama setelah melahirkan. Untuk itu, kita sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter tentang sindrom Baby Blues kalau gejalanya berlangsung lebih dari 14 hari karena dikhawatirkan akan mengarah pada kondisi yang lebih buruk yaitu Postpartum Depression (PPD).

Penyebab BBS ini adalah murni karena faktor hormonal. Selain itu, kelelahan merawat newborn juga bisa jadi penyebabnya. Perubahan pola hidup yang dialami setelah melahirkan juga berpotensi menyebabkan kita merasa depresi. Jadi kita merasa khawatir dan takut tidak mampu merawat & membesarkan anak dengan baik.

Berikut ini adalah beberapa gejala Baby Blues Syndrome:

  • Muncul rasa sedih yang menyebabkan ibu menangis dan merasa depresi
  • Emosi labil sehingga mudah marah dan merasa takut tanpa alasan jelas
  • Merasa kelelahan, sulit tidur dan sering sakit kepala
  • Merasa kurang percaya diri dan muncul rasa khawatir berlebihan

Jangan biarkan BBS terus berlanjut ya Moms, karena akan berdampak negatif untuk psikologis ibu dan juga anak.

Saya mau berbagi beberapa tips untuk membantu mengatasi sindrom Baby Blues:

  1. Melakukan perencanaan matang dalam persiapan kelahiran baik secara fisik, mental dan materi
  2. Mencari banyak-banyak informasi tentang persalinan dan cara merawat bayi.
    Kalau dulu selain dari bacaan, saya tak segan banyak bertanya ke suster, dokter, keluarga atau teman-teman lain yang lebih berpengalaman
  3. Berbagi beban dengan pasangan. Selalu ceritakan segala sesuatu dengan pasangan Anda dan bagi tanggung jawab dan beban dengan suami dalam merawat anak. Jangan semuanya dipikul sendiri
  4. Berbagi pengalaman dengan saudara/teman/ibu lainnya. Lagi-lagi jangan semuanya disimpan sendiri, jika ada teman atau sahabat untuk berbagi, alangkah baiknya karena lebih bisa melepas beban yang ada
  5. Tetap menjalankan pola hidup sehat
    Kalau tubuh tidak fit malah bisa semakin memicu terjadinya sindrom BBS. Pengalaman saya dulu, saya terkena infeksi saluran kemih pasca lahiran, wah itu semakin membuat beban jadi terasa tambah berat
  6. Berusaha untuk selalu berpikiran positif
  7. Jangan terlalu perfeksionis. Idealis sih boleh, tapi harus realistis juga karena tidak semua hal bisa berjalan seperti yang kita inginkan. Misalnya pola asuh kita yang berbeda dengan orangtua. Kalau kita sudah merasa tidak sanggup menangani semuanya sendiri, ya ikhlaskan saja dengan minta bantuan, walaupun itu tidak seperti yg kita mau atau tidak sesuai rules yang sudah kita buat, ya biarkan saja… toh prinsipnya orangtua kita juga mau yang terbaik buat cucunya, jadi jangan memaksakan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s